Senin, 13 Mei 2019

Penyakit Usus Buntu

Penyakit usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada usus buntu alias apendiks. Usus buntu adalah organ berbentuk kantong kecil dan tipis, berkapasitas sepanjang 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar. Saat menderita radang usus buntu, penderita bisa merasa nyeri di perut kanan tahap bawah. Apabila dibiarkan, infeksi bisa menjadi serius dan menyebabkan usus buntuh pecah, jadi menimbukan keluhan rasa nyeri luar biasa hingga membahayakan nyawa penderitanya.

Penyakit Usus Buntu

Radang usus buntu bisa terjadi pada semua usia, tetapi paling tak jarang pada usia 10 hingga 30 tahun. Penyakit usus buntu bisa dikarenakan sumbatan pada usus buntu, baik sebagian alias total. Hambatan usus buntu yang menyeluruh adalah kondisi darurat dan butuh segera ditangani dengan perbuatan operasi.

Gejala Penyakit Usus Buntu
Gejala mutlak pada penyakit usus buntu adalah nyeri pada perut. Rasa nyeri tersebut bisa berawal dari pusar, lalu bergerak ke tahap kanan bawah perut. Tetapi, posisi nyeri bisa tak sama-beda, tergantung usia dan posisi dari usus buntu itu sendiri. Dalam waktu berbagai jam, rasa nyeri bisa bertambah parah, khususnya saat kami bergerak, luar biasa napas dalam, batuk, alias bersin. Tidak hanya itu, rasa nyeri ini juga bisa timbul dengan cara mendadak, bahkan saat  penderita sedang tidur. Bila radang usus buntu terjadi saat hamil, rasa nyeri bisa timbul pada perut tahap atas, sebab posisi usus buntu menjadi lebih tinggi saat hamil.

Gejala nyeri perut tersebut bisa disertai gejala lain, di antaranya:

Kehilangan nafsu makan
Perut kembung
Tidak bisa buang gas (kentut)
Mual
Konstipasi alias diare
Demam
Konsultasikan terhadap dokter apabila mengalami nyeri perut yang perlahan-lahan makin parah dan meluas ke seluruh daerah perut. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda usus buntu telah pecah, dan mengdampakkan infeksi rongga perut alias peritonitis .

Penyebab Penyakit Usus Buntu
Penyakit usus buntu terjadi sebab rongga usus buntu mengalami infeksi. Dalam kondisi ini, bakteri berkembang biak dengan cepat jadi membikin usus buntu meradang, bengkak, hingga bernanah. Tak sedikit hal yang diduga membikin seseorang mengalami radang usus buntu, di antaranya:

Hambatan pada pintu rongga usus buntu
Penebalan alias pembengkakan jaringan dinding usus buntu sebab infeksi di saluran pencernaan alias di tahap tubuh lainnya
Tinja alias pertumbuhan parasit yang menyumbat rongga usus buntu
Cedera pada perut.
Keadaan medis, semacam tumor pada perut alias inflammatory bowel disease.
Kendati demikian, penyebab penyakit usus buntu masih belum bisa dipastikan.

Diagnosis Penyakit Usus Buntu
Diagnosis penyakit usus buntu dimulai seusai dokter menanyakan gejala yang dialami pasien dan meperbuat pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tersebut berfungsi untuk mekualitas rasa nyeri, dan diperbuat dengan menekan area yang terasa nyeri. Radang usus buntu ditandai oleh rasa nyeri yang terus parah seusai tekanan tersebut dilepas dengan cepat.

Guna memastikan diagnosis, dokter butuh meperbuat sejumlah tes. Tes yang diperbuat berupa:

Tes darah, guna mengecek jumlah sel darah putih yang menandakan adanya infeksi.
Tes urine, untuk menghilangkan kemungkinan adanya penyakit lain, umpama infeksi saluran kemih alias batu ginjal.
CT scan alias USG, untuk memastikan rasa nyeri pada perut dikarenakan penyakit usus buntu.
Pemeriksaan panggul, untuk memastikan rasa nyeri bukan dikarenakan persoalan reproduksi alias infeksi panggul lainnya.
Tes kehamilan, guna memastikan rasa nyeri tersebut bukan dikarenakan kehamilan ektopik.
Gambar Rontgen dada, untuk memastikan rasa nyeri bukan dikarenakan pneumonia sebelah kanan, yang gejalanya mirip radang usus buntu.
Pengobatan Penyakit Usus Buntu
Langkah pengobatan mutlak untuk penyakit usus buntu adalah melewati prosedur operasi pelantikan usus buntu, alias yang dikenal dengan istilah apendektomi. Tetapi sebelum diperbuat operasi, penderita biasanya diberi obat antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi, khususnya pada usus buntu yang belum pecah tetapi telah terbentuk abses. Sedangkan pada usus buntu yang ringan, pemberian antibiotik sebelum operasi bisa memulihkan kondisi sebagian pasien, jadi operasi tak butuh diperbuat.

Tersedia dua tutorial dalam meperbuat apendektomi, yaitu dengan cara laparoskopi alias operasi celah kunci, dan robek terbuka alias laparotomi. Kedua teknik robek tersebut diawali dengan meperbuat bius total pada pasien. Operasi usus buntu dengan laparoskopi diperbuat dengan membikin berbagai sayatan kecil sebesar celah kunci pada perut, untuk memasukkan alat robek khusus yang dibekali kamera untuk membawa usus buntu. Operasi ini lebih disukai sebab proses pemulihannya lebih singkat. Operasi tipe ini juga dianjurkan pada penderita lansia alias obesitas.

Sementara operasi dengan robek terbuka diperbuat dengan membedah perut tahap kanan bawah sepanjang 5-10 sentimeter, dan membawa usus buntu. Robek terbuka ini sangat dianjurkan untuk permasalahan usus buntu di mana infeksi telah menyebar ke luar usus buntu, alias apabila usus buntu telah bernanah (abses).

Sementara untuk permasalahan usus buntu yang telah pecah dan terjadi abses, butuh diperbuat pengeluaran nanah terlebih dahulu dari abses memakai selang yang dimasukkan melewati sayatan pada kulit. Pelaksanaan apendektomi baru bisa diperbuat berbagai minggu kemudian seusai infeksi terkendali.

Proses perbaikan pasca apendektomi pada robek laparoskopi lebih pendek dibanding robek terbuka. Pasien bisa pulang dari rumah sakit kemarin hari pasca operasi. Tetapi apabila terjadi komplikasi saat operasi, maka perawatan di rumah sakit bisa berjalan lebih lama. Selagi masa pemulihan, pasien tak diperbolehkan membawa beban yang berat, dan dianjurkan untuk tak  berolahraga dahulu selagi kurang lebih 6 minggu. Seusai itu, pasien bisa kembali beraktivitas dengan cara normal.

Komplikasi Penyakit Usus Buntu
Penyakit usus buntu yang tak diobati berisiko memunculkan komplikasi yang membahayakan. Komplikasi tersebut antara lain:

Abses alias terbentuknya kantong berisi nanah. Komplikasi ini timbul sebagai usaha alamiah tubuh untuk menanggulangi infeksi pada usus buntu.

Penanganannya diperbuat dengan penyedotan nanah dari abses alias dengan antibiotik. Apabila ditemukan dalam operasi, abses dan tahap di kurang lebihnya bakal dibersihkan dengan hati-hati dan diberi antibiotik.

Peritonitis. Peritonitis adalah infeksi pada lapisan dalam perut alias peritoneum. Peritonitis terjadi saat usus buntu pecah dan infeksi menyebar hingga ke seluruh rongga perut. Penanganan permasalahan ini diperbuat dengan pemberian antibiotik dan perbuatan robek terbuka secepatnya, untuk membawa usus buntu dan membersihkan rongga perut. Peritonitis ditandai dengan nyeri seluruh perut yang luar biasa dan terus menerus, demam, dan detak jantung yang cepat.